Posts Tagged ‘jaringan’

h1

Menggunakan Packet Tracer

Desember 7, 2009

Packet tracert  adalah software simulasi jaringan, jadi sebelum mengkonfigurasi di router asli lebih baik belajar konfigurasiny di packet tracert.  sintak yang dipake nya juga gak beda koq jika kita ingin konfigurasi di router asli.

aku udah nyoba konfigurasi di router asli..

tapi masi pake yang konfigurasi router statis..

cuma sekedar berbagi ilmu aja…

Baru-baru ini aku baru belajar konfigurasi Router Dinamik di packet tracert menggunakan RIP versi 1 dan Versi 2

perbedaan RIP versi 1 dan RIP versi 2 adalah pada pemakaian host nya. jika menggunakan RIP versi 2 penggunaan host lebih efisien, karena host yang ada dipakai sesuai keperluan.

pertama bukalah software packet tracert

kemudian buatlah Rangkaian network seperti ini :

Rangkaian ini hanya fiktif… Hanya Sekedar Pembelajaran setting Jaringan

isi command line dari Router_Lampung :

RouterLampung(config)#interface serial 0/0/0
RouterLampung(config-if)#ip address 192.168.2..
^
% Invalid input detected at ‘^’ marker.
RouterLampung(config-if)#ip address 192.168.2.1 255.255.255.252
RouterLampung(config-if)#clockrate 64000
^
% Invalid input detected at ‘^’ marker.
RouterLampung(config-if)#clock rate 64000
RouterLampung(config-if)#no shutdown
%LINK-5-CHANGED: Interface Serial0/0/0, changed state to down
RouterLampung(config-if)#interface serial 0/0/1
RouterLampung(config-if)#ip address 192.168.4.1 255.255.255.252
RouterLampung(config-if)#
RouterLampung(config-if)#clock rate 64000
RouterLampung(config-if)#no shutdown
%LINK-5-CHANGED: Interface Serial0/0/1, changed state to down
RouterLampung(config-if)#^Z
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
RouterLampung#copy run start
Destination filename [startup-config]?
Building configuration…
[OK]
RouterLampung#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
RouterLampung(config)#interface fa
RouterLampung(config)#interface fastEthernet 0/0
RouterLampung(config-if)#ip address 192.168.3.1 255.255.255.192
RouterLampung(config-if)#no shutdown
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0, changed state to up
RouterLampung(config-if)#^Z
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
RouterLampung#copy run start
Destination filename [startup-config]?
Building configuration…
[OK]
RouterLampung#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
RouterLampung(config)#rrouter rip
^
% Invalid input detected at ‘^’ marker.
RouterLampung(config)#router rip
RouterLampung(config-router)#version 2
RouterLampung(config-router)#network 192.168.3.0
RouterLampung(config-router)#network 192.168.2.0
RouterLampung(config-router)#network 192.168.4.0
RouterLampung(config-router)#^Z
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
RouterLampung#copy run start
Destination filename [startup-config]?
Building configuration…
[OK]
isi command line Router Jakarta

RouterJakarta(config-if)#ip address 192.168.4.2 255.255.255.252
RouterJakarta(config-if)#no shutdown
%LINK-5-CHANGED: Interface Serial0/0/0, changed state to up
RouterJakarta(config-if)#
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface Serial0/0/0, changed state to up
RouterJakarta(config-if)#^Z
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
RouterJakarta#copy run start
Destination filename [startup-config]?
Building configuration…
[OK]
RouterJakarta#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
RouterJakarta(config)#interface fa
RouterJakarta(config)#interface fastEthernet 0/0
RouterJakarta(config-if)#ip address 192.168.10.1 255.255.255.0
RouterJakarta(config-if)#no shutdown
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0, changed state to up
RouterJakarta(config-if)#^Z
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
RouterJakarta#copy run start
Destination filename [startup-config]?
Building configuration…
[OK]
RouterJakarta#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
RouterJakarta(config)#router rip
RouterJakarta(config-router)#version 2
RouterJakarta(config-router)#network 192.168.4.0
RouterJakarta(config-router)#network 192.168.10.0
RouterJakarta(config-router)#^Z
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
RouterJakarta#copy run start
Destination filename [startup-config]?
Building configuration…
[OK]
isi command Line Router Palembang

RouterPalemabeng(config)#interface serial 0/0/0
RouterPalemabeng(config-if)#ip address 192.168.2.2 255.255.255.252
RouterPalemabeng(config-if)#no shutdown
%LINK-5-CHANGED: Interface Serial0/0/0, changed state to up
RouterPalemabeng(config-if)#
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface Serial0/0/0, changed state to up
RouterPalemabeng(config-if)#interface fa
RouterPalemabeng(config-if)#^Z
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
RouterPalemabeng#copy run start
Destination filename [startup-config]?
Building configuration…
[OK]
RouterPalemabeng#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
RouterPalemabeng(config)#interface fa
RouterPalemabeng(config)#interface fastEthernet 0/0
RouterPalemabeng(config-if)#ip address 192.168.20.1 255.255.255.240
RouterPalemabeng(config-if)#no shutdown
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0, changed state to up
RouterPalemabeng(config-if)#exit
RouterPalemabeng(config)#router rip
RouterPalemabe(config-router)#version 2
RouterPalemabe(config-router)#network 192.168.2.0
RouterPalemabe(config-router)#network 192.168.20.0
RouterPalemabe(config-router)#^Z
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
RouterPalemabeng#copy run start
Destination filename [startup-config]?
Building configuration…
[OK]
h1

INFRASTRUKTUR KABEL BAWAH LAUT

Desember 6, 2009

International network atau internet terdiri dari ratusan ribu jaringan  kecil yang menghubungkan organisasi pendidikan, komersial, militer dan bahkan perorangan. Susunan seperti ini dinamakan jaringan server/klien. Komputer klien adalah komputer yang meminta data atau layanan. Server atau host computer adalah komputer pusat penyedia data atau layanan yang diminta. Ketika komputer klien meminta –misalnya informasi beragam penerbangan dan harga tiket-ke komputer server, maka komputer server mengirim informasi tersebut kembali ke komputer klien.

Untuk mendukung fasilitas internet salah satunya dengan menggunakan kabel FO (fiber Optic) bawah laut yang disediakan oleh NAP (Network Access Point) yang dimiliki oleh NSP (Network Service Provider) sebagai penyedia jasa jaringan sehingga dapat digunakan oleh ISP (Internet Server Provider) yang nantinya akan diberikan kepada pengguna sehingga komunikasi dan pertukaran data dapat terjadi diantara pengguna internet.

Banyak NAP yang ada didunia ini mengkoneksikan  ke backbone telco/NAP yang ada di USA, karena akses internet paling banyak menuju kesana seperti facebook, google, yahoo, dan lain-lain.

NAP (network access point) yang biasa dimiliki NSP (network service provider) adalah perusahaan yang secara resmi dapat melayani kebutuhan sekaligus menjual bandwidth ke ISP. Selain memiliki ijin resmi dari Departemen Komunikasi dan Informasi, syarat utama bagi sebuah perusahaan di Indonesia untuk bisa memiliki ijin NAP adalah memiliki total penggunaan bandwidth lebih dari 45 Mbps, baru selanjutnya akan berjalan kepada client yang menggunakan masing-masing ISP sehingga terjadilah interkoneksi jaringan.

Salah satu NSP besar yang mempunyai kabel bawah laut fiber optic yang terhubung ke beberapa negara adalah NEC corporation yang merupakan salah satu vendor NAP terbesar didunia, beberapa NAP besar di Indonesia melakukan kerjasama dengan dengan NEC untuk membangun proyek kabel bawah lautnya, diantaranya adalah INDOSAT dan TELKOM. NEC telah bergerak dibidang pembangunan kabel serat optik bawah laut lebih dari 30 tahun.

Dibawah ini adalah gambar kabel yang dibangun oleh NEC, Banyak jaringan kabel bawah laut yang telah dibangun oleh NEC, diantaranya adalah  backbone dalam regional asia pasifik yang singgah ke beberapa negara. Yaitu APCN2 (Asia Pacific Cable Network 2) sepanjang 19.000 km dengan kapasitas 160Gbps, upgrade hingga 280Gbps. Selain itu AJC (Australia-Japan Cable) yang membentang sepanjang  11000 km.

Berdasarkan gambar terlihat bahwa APCN2 landing di beberapa negara di asia pasifik seperti singapura, malaysia, china, filipina, taiwan, korea utara, dan jepang.

Dilihat berdasarkan gambar terlihat melalui APCN2 dapat terkonesi ke australia, melalui AJC (australia japan connection).

Dari USA yang terkoneksi adalah china dan jepang, sehingga akses china-usa dan jepang-usa lebih cepat karena jaringan FO langsung mendarat di USA.

Selain itu ada beberapa kabel lagi yang dibangun oleh NEC diantaranya EAC2 (East Asia Crossing 2) yang membentang sepanjang 7800 km, TIS (Thailand-Indonesia-Singapore) sepanjang 1000 km, 320 km kabel antara India –  Srilangka, dan lain-lain.

Selain kabel APCN2, AJC, EAC, dan lain-lain, NEC juga mempunyai beberapa kabel lagi yang bekerjasama dengan NAP lokal tiap negara khususnya di Asia. Di Indonesia saja NAP lokal yang menghubungkan jaringan di Indonesia yang mendarat di Singapura seperti INDOSAT, dan XL.

Wajar jika dilihat NEC sebagai salah satu vendor NAP terbesar didunia sering memenangkan tender pembangunan kabel bawah laut, karena NEC telah banyak membentang kabel bawah lautnya melalui tiap negara (khususnya diwilayah asia pasik). Sehingga NEC dapat memenangkan kontrak kerjasamanya dengan beberapa NAP lokal yang ada di Asia.

Bahkan dalam waktu dekat ini NEC juga telah telah mengadakan kerjasama dengan perusahaan penyedia jaringan di Indonesia untuk membangun kabel bawah laut yang menghubungkan langsung jakarta-hongkong dan surabaya-hongkong. ISP boleh jadi memiliki NAP tersendiri, jika ISP tersebut memiliki NAP sendiri maka harga yang diberikan untuk pelangga internet akan lebih murah daripada ISP yang harus membeli bandwidth dari luar negeri atau NAP lain.

NAP yang satu akan terhubung ke NAP yang lainnya sehingga koneksi jaringan internet antar negara dapat terjadi.

Kabel Fiber Optic antara Indonesia-USA belum terhubung langsung karena Indonesia belum memilki content internet yang mendunia, jika dilihat negara-negara yang bentangan kabel bawah lautnya langsung terkoneksi ke USA maka negara-negara tersebut adalah negara yang maju disegala bidang khususnya teknologi.

Pengguna jaringan telekomunikasi terus berkembang di dunia, maka dibutuhkan jaringan kabel yang membentang diseluruh dunia, sama seperti NEC google juga telah membangun serat optic yang langsung terkoneksi ke beberapa negara maju seperti jepang dan china. Dengan adanya ini maka pelayanan yang diberikan oleh google akan semakin cepat, maka perusahaan google dapat semakin berkembang.

Traffic penggunaan internet setiap harinya meningkat maka untuk penyedia backbone jaringan internet semakin menjanjikan karena ISP semakin banyak mengejar backbone yang langsung terkoneksi ke negara yang akses jaringanya langsung menuju ke USA.

Dalam internet backbone setiap NAP minimal terdiri atas sebuah komputer yang bertugas mengarahkan lalu lintas internet dari satu NAP ke NAP yang lain. Jalur penghubung antar NAP ini mirip dengan jalur jalan raya antarnegara bagian, yang dinamakan backbone Internet yaitu jalur transmisi berkecepatan tinggi dan berkapasitas besar yang menggunakan teknologi komunikasi terbaru untuk mentransmisikan data melalui internet.

Berikut gambar bentangan kabel bawah laut yang ada didunia beserta nama kabelnya:

Gambarnya lihat di : http://www.infographics.tk/wp-content/uploads/2009/10/2009-submarine-cable-map.jpg

Berdasarkan pemetaan gambar kabel bawah laut terlihat bahwa 93 negara didunia telah memiliki kabel bawah laut. Dari gambar terlihat warna-warna diantara kabel-kabel bawah laut, terdapat keterangan mengenai nama-nama kabelnya, diantarannya adalah APCN2, AJC, EAC2, dan lain-lain.

Kabel bawah laut bentangannya semakin banyak karena sebagian besar akumulasi lalu lintas internet terjadi di NAP. Oelh karena NAP cepat overload, maka dibuatlah Private/Peer NAP atau PNAP pada tahun 1990. PNAP mampu memberikan routing lebih efisien dalam melewatkan data di internet dengan cara menyediakan lebih banyak lokasi akses backbone. Saat ini, terdapat lebih dari 100 PNAP di Amerika Serikat, dan jumlah tersebut akan terus bertambah. PNAP dibangun oleh perusahaan komersial, misalnya Savvis Communications.

Gambar diatas merupakan gambar terbaru dari bentangan kabel bawah laut  yang ada di dunia (lengkapnya lihat di newscientist.com). maka dapat dilihat rute dari kabel bawah laut ini berbentuk ring sehingga jika salah satu kabel terputus maka dapat dialihkan menggunakan rute kabel yang lain, walaupun mungkin tidak akan secepat saat melewati kabel sebelumnya. Hal ini dikarenakan rute bisa menjadi lebih panjang daripada sebelumnya. Penyedia backbone harus mengantisipasi hal ini karena menyangkut kepentingan pelayanan terhadap pelanggan yang menggunakan jasa jaringannya.

Penyedia backbone selain NEC yang telah dijelaskan sebelumnya, koneksi backbone disediakan oleh para penyedia backbone internet semisal AT&T, Cable & Wireless, GTE, Sprint, Teleglobe dan UUNET.